RADARDEPOK.COM – Aroma tak sedap sudah terhirup dari kejauhan, sampah menumpuk di gunungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung menjadi masalah yang belum dapat diselesaikan hingga saat ini. Apalagi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kebersihan (KLHK) telah melarang sistem open dumping atau pembuangan terbuka, di mana sampah dibuang begitu saja. Tentunya, kondisi TPA Cipayung yang telah overload atau melebihi kapasitas ini, turut menimbulkan masalah baru di Kota Depok, khususnya di sekitar gunungan sampah tersebut. Contohnya, masyarakat setempat mengalami sakit, hingga timbulnya Tempat Sampah Liar (TPS) liar. Di tengah masalah sampah yang belum terurai ini, secercah harapan dihadirkan Kodim 0508/Depok melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 124. Lewat program ini, mereka mencoba membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk menyelesaikan masalah sampai menggunakan mesin incinerator dengan metode zero waste atau tanpa limbah. Rangkaian mesin pengurai sampah ini ditempatkan Kodim 0508/Depok di Kawasan Tanah Merah, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok yang merupakan lahan sitaan dalam kasus korupsi BLBI. Bukan sekedar program biasa, inovasi pengelolaan sampah yang dilabeli Pojok Tangguh Alam Lestari (PTAL) Kodim 0508/Depok itu mampu mengurai sampah hingga 50 ton per hari, sedangkan produksi sampah di Kota Depok mencapai 1.200 ton per hari. Artinya, jika mesin incinerator itu diperbanyak dan disebar di wilayah Kota Depok, tentunya dapat membantu Pemkot Depok dalam menyelesaikan masalah sampah yang sampai saat ini belum ada titik terangnya. Koordinator PTAL Kodim 0508/Depok, Martinus Wahyu Suwarjono alias Kelik mengungkapkan, mesin incinerator dapat mengolah sampah hingga 50 ton per hari dengan kapasitas pengolahan 1 sampai 1,5 ton per jam. Sebelum proses pengelolaan sampah dilakukan, akan lebih dulu melalui proses penimbangan. “Jadi, sampah yang masuk itu ditimbang dulu supaya data jumlah sampah yang dikelola nanti diketahui, karena data ini penting untuk serapan sampah yang akan kami kelola nantinya,” beber Kelik kepada Radar Depok, Senin (9/6). Setelah ditimbang, sambung Kelik, sampah tersebut dipilah secara manual untuk memisahkan sampah non organik seperti plastik, kertas, kardus, logam dan lainnya, yang sekiranya masih ada nilai ekonomis. “Proses selanjutnya ada pemilihan mekanis atau menggunakan mesin. Nah, mesin ini mampu memisahkan antara sampah organik dan non organik. Jika mesin ini memilah sampah organik, maka yang keluar dari mesin itu sudah menjadi bubur organik. Setelah keluar jadi bubur organik, proses selanjutnya yakni mengubahnya menjadi biodigester atau biogas,” beber Kelik. Biodegester tersebut, lanjut Kelik, berfungsi untuk mengubah sampah organik menjadi gas metan yang setara dengan Elpiji. Gas metan itu lah yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengoperasian mesin incinerator. Selain sampah organik, Kelik membeberkan, sampah non organik juga dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar, melalui proses pembakaran residu. “Sampah non organik ini kami manfaatkan juga. Jadi, sebenarnya yang non organik ini kami jadikan sebagai material lanjutan, dengan proses pembakaran residu melalui alat kami yang namanya pirolisis untuk mengubahnya menjadi bahan bakar minyak (BBM) berupa solar,” jelas Kelik. Bahan bakar minyak yang dihasilkan tersebut, sambung Kelik, kemudian digunakan untuk mesin-mesin yang berada di lokasi pengelolaan sampah di sana. Jadi, BBM yang digunakan itu pada dasarnya berasal dari sampah non organik. “Nah, dari sisa pembakaran ini kan menjadi abu. Dan abunya ini masih sangat bermanfaat untuk pembenah tanah. Contohnya menstabilkan pH tanah,” ungkap Kelik. Hasil akhir dari proses pengelolaan sampah atau biodigester itu adalah salari atau sejenis bubuk cair, ungkap Kelik, dan hal ini juga dimanfaatkan untuk tanaman, layaknya pupuk. Jadi, konsep pengelolaan sampah ini memang zero waste atau tanpa menghasilkan limbah. “Semua sampah kami manfaatkan. Sampah organiknya kami proses melalui biodigester atau biogas. Sementara untuk sampah non organiknya kami manfaatkan melalui pembakaran di incinerator. Panas dari proses pembakaran itu dimanfaatkan untuk proses pirolisis, yang mengubah sampah non organik itu menjadi solar,” jelas Kelik. Sementara itu, Komandan Kodim (Dandim) 0508/Depok, Kolonel Inf Iman Widhiarto menegaskan, TNI harus menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya. “Kesulitan rakyat ini sama halnya dengan permasalahan sampah yang ada di Kota Depok. Mendengar fenomena ini, akhirnya kami memutuskan untuk membantu masyarakat dan Pemkot Depok dalam mengatasi permasalahan sampah,” tutur Kolonel Inf Iman Widhiarto. Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Kolonel Inf Iman Widhiarto mengungkapkan, sampah-sampah yang dihasilkan mencapai 1.200 ton per hari. “Dapat dibayangkan, apabila pembuangan sampah di Depok ini terus dilakukan dengan sistem open dumping, butuh berapa banyak lahan yang digunakan hanya untuk menimbun sampah saja. Apalagi mengingat sistem open dumping ini sudah tidak diperkenankan KLHK,” kata Kolonel Inf Iman Widhiarto. Maka dari itu, Kolonel Inf Iman Widhiarto mengatakan, untuk membantu Pemkot Depok dalam mengatasi permasalahan sampah, Kodim 0508/Depok membangun wadah pengelolaan sampah yang bisa mengolah sampah apapun dengan metode zero waste. Sehingga sampah yang dikelola dapat dimanfaatkan semuanya, tanpa menghasilkan limbah. “Dengan adanya sistem pengelolaan sampah ini diharapkan dapat menjawab dan mengatasi permasalahan sampah di Kota Depok,” tutur Kolonel Inf Iman Widhiarto. Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, TMMD secara umum biasanya menangani berbagai permasalahan di wilayah. Dan di Kota Depok permasalahan utamanya adalah pengelolaan sampah. “Dengan hadirnya inovasi pengelolaan sampah zero waste, ini bisa menjadi terobosan baru yang dilakukan jajaran Kodim 0508/Depok. Dan kegiatan ini mesti dilakukan. Kalau bisa di tiap kelurahan hal seperti ini dibuat juga. Dalam setahun bisa dibuat tiga atau empat kelurahan,” ujar Dedi Mulyadi. Sehingga, sambung Dedi Mulyadi, dalam waktu tiga tahun urusan permasalahan sampah di Kota Depok bisa selesai. Karena menurutnya, program ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah di Kota Depok. “Ini adalah solusi, yang diharapkan dapat menginspirasi daerah-daerah lain untuk menyelesaikan berbagai masalah sampah dengan baik,” tutur Dedi Mulyadi. Terpisah, Walikota Depok, Supian Suri mengucapkan terimakasih kepada Kodim 0508/Depok, atas inovasi pengelolaan sampah dengan metode zero waste dalam program TMMD yang tengah dilaksanakan. “Ini sangat bermanfaat buat warga Depok. Dan kami juga memang membuka kesempatan kepada siapapun, yang ingin berkontribusi untuk mengurangi sampah di Kota Depok. Salah satunya program TMMD yang dijalankan,” tutur Supian Suri. Mudah-mudahan, sambung Supian Suri, program TMMD yang diinisiasi untuk mengolah sampah ini dapat mengurangi atau menyelesaikan masalah sampah di beberapa kecamatan. Tekadnya adalah, semua sampah di Kota Depok dapat tertangani. “Jika program ini berhasil, tidak menutup kemungkinan hal ini akan direalisasikan di berbagai wilayah di Kota Depok,” tutup Supian Suri.*** Sumber : https://www.radardepok.com/nasional/94615318293/tmmd-usai-zero-waste-urai-sampah-depok
Biodigester di Pusat Kuliner Cimanuk, Ubah Sampah Jadi Gas Methane Pengganti Elpiji
DISKOMINFO INDRAMAYU – Pemkab Indramayu bersama PT. Polytama Propindo telah menyelesaikan pembangunan Biodigester yang berada di Pusat Kuliner Cimanuk (Kulcim). Biodigester ini merubah sampah organik menjadi gas methane pengganti elpiji yang bisa digunakan oleh para pedagang. CSR Advisor PT. Polytama Propindo, Tato Mudjianto menjelaskan, pembangunan biodigester di Kulcim sudah selesai dilaksanakan pada bulan September ini dan rencananya pada awal Oktober akan diresmikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Bupati Indramayu, dan juga jajaran direksi PT. Polytama Propindo. Biodigester yang dibangun PT. Polytama Propindo merupakan alat untuk memproses sampah organik bekas menjadi gas methane yang hasilnya dapat digunakan untuk pengganti gas elpiji. “Untuk saat ini, sementara masih ada 6 unit tungku kompor gas yang diberikan kepada pedagang secara gratis. Jika pedagang sudah paham manfaatnya dan cara mengelolanya kita akan tambah lagi,” kata Tato kepada Diskominfo, Selasa (12/9/2023). Tato menambahkan, saat ini pihaknya terus melakukan edukasi kepada para pedagang di Kulcim agar melakukan upaya mandiri dalam pemilahan sampah organik yang bisa dijadikan bahan gas methane. Menurutnya, sampah organik sisa makan yang bisa diproses yaitu sampah yang belum bisa tercampur dengan sabun atau air deterjen dan tidak ada sisa kulit jeruk. Pasalnya, jika sampah organik tercampur dengan air sabun ataupun ada kulit jeruk maka hal itu tidak bisa diproses atau tidak bisa diurai oleh bakteri sehingga nantinya tidak bisa menghasilkan gas. “Pemahaman inilah yang tengah kita lakukan kepada para pedagang sehingga mereka betul-betul paham, cara memilah sampah dan juga memperlakukannya,” kata Tato. Sementara itu pedagang di Kuliner Cimanuk, Maman mengatakan, pihaknya sangat terbantu dengan adanya gas methane pengganti elpiji ini. Jika dibandingkan dengan gas elpiji, maka api yang dihasilkan lebih besar. Menurut Maman, dengan adanya fasilitas biodigester ini menjadi bahan edukasi bagi para pedagang untuk bisa memilah sampah organik dan non organik dan yang terpenting secara ekonomi bisa membantu para pedagang. “Alhamdulilah terima kasih kepada Polytama, kepada Bupati Indramayu Nina Agustina yang sudah berkolaborasi dan memfasilitasi pembangunan biodigester ini, sangat bermanfaat sekali bagi kami” katanya. (Aa Deni/Diskominfo) source : Diskominfo Kab. Indramayu
‘Api Biru’ Energi Terbarukan dari Sisa Makanan Pedagang Indramayu
Indramayu – Aktivitas Suranto tampak dari balik gerobak begitu sibuk saat menyiapkan dagangannya di salah satu deretan kios Kawasan Kuliner Cimanuk (Kulcim), Kabupaten Indramayu. Sesekali pria berusia 55 tahun itu pun terlihat menyiapkan kursi dan meja bagi para pelanggan dengan rapi. Gerak cepat Suranto di pagi itu untuk lebih cepat memberikan pelayanan kepada pembeli. Selain itu, api biru di atas tungku kompor dari bagian dapur terlihat dibiarkan menyala untuk digunakan Suranto memasak bahan dan bumbu mi ayam bakso, atau sekadar memasak air. Ditunjukkan Suranto, sumber api itu ternyata bukan dari tabung gas, melainkan melalui selang yang terhubung ke biodigester. Sekadar diketahui, biodigester adalah alat yang digunakan untuk mengubah limbah organik menjadi biogas. Dia bilang pemanfaatan energi baru itu lebih menguntungkan terutama dalam hal keuangan alias modal. Suranto adalah pedagang kuliner mi ayam bakso yang berada di Kawasan Kulcim Indramayu. Dari 56 orang pedagang di kawasan kuliner yang berada di jantung pemerintahan Kabupaten Indramayu itu, Suranto termasuk orang yang beruntung bisa memanfaatkan gas dari biodigester secara gratis dari program CSR PT Polytama Propindo, yang kini menjadi bagian dari Pertamina Group. Dengan menggunakan bantuan korek api, Suranto menyalakan kompor yang sudah terhubung dengan pipa gas metana tersebut. Sudah beberapa kali kompor dinyalakan untuk memasak air di pagi hari itu. Namun begitu, Suranto justru lebih bisa menghemat belanja tabung gas LPG setelah menggunakan biodigester. “Satu tabung kalau cuma buat masak teh sama air putih ya sampai tiga hari (LPG). Dibantu ini ya bisa lima sampai enam hari,” kata Suranto menakar. Memanfaatkan bahan bakar dari hasil olahan biodigester itu memang gratis. Namun, Suranto beserta lima pedagang lainnya juga harus menyetor sampah setiap hari. Ya, sampah organik sisa makanan kepada Forum Pedagang Kuliner Cimanuk sebagai bahan utama produksi gas metana. Tidak dipungkiri Suranto, bahwa kebiasaan para pedagang membersihkan sekitar kios saat hendak tutup. Sampah yang terkumpul pun seringnya langsung dibuang ke TPS. Namun kali ini lebih berbeda, ia dan pedagang mitra binaan PT Polytama Propindo lainnya mulai memilah sampah. Untuk sampah anorganik, Suranto tetap mengumpulkannya dan membuangnya ke TPS. Sementara sampah organik dari sisa-sisa makanan, seperti mi dan bakso ia kumpulkan untuk disetorkan ke tempat biodigester. Tapi tidak sembarangan, Suranto tetap sisihkan sampah kulit jeruk agar tidak tercampur dengan sampah sisa makanan lainnya. “Sampah sing (dari) basah-basah gitu, kayak daun, air bakso, mi. Sampah plastik nggak bisa,” ujar Suranto menjelaskan jenis penyetoran sampah. Persyaratan mudah mendapatkan gas metana dari biodigester itu disanggupi Suranto. Apalagi, Suranto yang menjual mi ayam bakso, yang setiap harinya mampu memproduksi 10 sampai 15 kilogram daging untuk dua cabang usahanya. Dia mempertimbangkan jumlah produksi dengan keramaian pembelian. Jika sedang ramai kata Suranto, bisa menjual sekitar 200 porsi per hari. Tidak semuanya habis, makanan yang tersisa di mangkuk pembeli dikumpulkannya secara terpisah. Mulai dari sisa kuah, sisa daging, mi hingga sayuran disatukan untuk disetorkan setelah menutup kiosnya. Hal itu pun diakui Suranto menjadi kebiasaan baru yang menguntungkanya sehingga bisa menghemat penggunaan gas LPG. “Ya sekitar 10 kilo (kilogram) lah yang disetor,” ujarnya. Senada disampaikan Suranto, Ketua Forum Pedagang Kuliner Cimanuk Maman mengatakan penggunaan gas metana lebih menghemat modal usaha. Dalam sebulan, biaya usaha bisa berkurang sekira Rp 150 ribu. “Perbulan bisa Rp 150 ribu lumayan buat nambah tabungan. Semuanya gratis dari CSR Polytama,” ungkap Maman. Sayangnya kata Maman, dari sekian banyak pedagang, baru enam orang pedagang yang sudah memanfaatkan keberadaan biodigester. Sebab, tidak semua pedagang mampu menyetorkan sampah sisa makanan. Kendati begitu, ia tetap memasang saluran pipa ke lapak pedagang kuliner. Pengelolaan sampah sisa makanan diakui Maman belum berjalan secara optimal. Akibat minimnya pasokan sampah, daya tampung bahan bioreaktor yang mencapai 100 kilogram. Setiap harinya, hanya baru bisa mengolah 30 kilogram saja sampah sisa makanan. “Dari 56 pedagang, baru enam pedagang yang kebagian tungku, karena kapasitasnya juga masih kurang, produksi masih kurang. Kalau yang pedagang kuliner sih disediakan tapi di sini kan kebanyakan jualan kayak kopi jadi kontribusi buat sampahnya kan nggak ada,” jelasnya. Sambil menunjukkan tempat biodigester, Maman menerangkan singkat proses pengolahan pada biodigester. Di awali oleh pedagang dengan memilah sampah makanan agar tidak tercampur dengan kulit jeruk dan air sabun. Karena bisa mengakibatkan bakteri pengurai pada tabung pengolahan bisa mati. Jika sudah steril, barulah dimasukkan ke dalam drum penampungan. Tahap selanjutnya, sampah sisa makanan yang terkumpul dimasukkan ke dalam bioreaktor yang sudah terdapat bakteri pengurai. Dari proses itulah kemudian menghasilkan gas metana yang kemudian disambungkan balon gas sebelum hasil gas metana dialirkan dengan menggunakan jaringan pipa gas ke kompor gas. “Ternyata yang lebih besar dari biodigester jadi cepat matang, terus lebih aman,” terang Maman. Bukan hanya gas metana, biodigester berbasis MLO (material lanjutan organik) juga menghasilkan air lindi, atau orang sekitar menyebut POC (pupuk organik cair). Sehingga, Maman dan pedagang lainnya akan mendorong Polytama untuk melakukan uji laboratorium. “Makanya saya usulkan taman di sini tuh di uji coba pupuk, udah-udah mulai, itu kriminil gede-gede kayak bayam,” kelakar Maman. Rutinitas anyar yang dilakukan para pedagang kecil di kawasan Kuliner Cimanuk Indramayu ternyata tidak hanya mendapatkan keuntungan dari segi finansial saja. Selain menghemat modal, kegiatan mereka mengelola sampah pun berdampak positif secara global. Termasuk mengurangi risiko kerusakan pada ozon bumi akibat pembusukan limbah organik. Hal itu pun menjadi sejalan dengan target pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor pengelolaan sampah. Seperti dilansir dari laman ppid.menlhk.go.id, pada tahun 2022 lalu KLHK mendata jumlah sampah di Indonesia sebesar 68,7 juta ton per tahun dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, khususnya sampah sisa makanan yang mencapai 41,27%. Kurang lebih 38,28% dari sampah tersebut bersumber dari rumah tangga. Selain itu, sampah organik juga merupakan kontributor terbesar dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca jika tidak terkelola dengan baik. Berdasarkan data KLHK Tahun 2022 juga bahwa sebanyak 65,83% sampah di Indonesia masih diangkut dan dibuang ke landfill. Sampah organik sisa makanan yang ditimbun di landfill tersebut akan menghasilkan emisi gas metana (CH4) yang memiliki kekuatan lebih besar dalam memerangkap panas di atmosfer dibandingkan karbon dioksida (CO2). Kondisi tersebut mempertegas bahwa pengelolaan sampah organik, khususnya sampah sisa makanan adalah penting dan perlu menjadi perhatian utama. Dalam upaya mencapai target zero waste sudah saatnya sekarang kita
Pemkab Indramayu Bersinergi Dengan Perusahaan Biji Plastik, Resmikan Biodigester di Taman Tjimanoek
SABACIREBON – Polytama merupakan salah satu perusahaan di Indonesia yang memproduksi resin polipropilena (PP), bijih plastik yang merupakan produk Petrokimia hilir. Polytama yang pertama kali berdiri 30 tahun yang lalu di Indramayu, Jawa Barat memberikan dukungan penuh dan berkomitmen untuk memberikan kontribusi terbaiknya dalam memajukan Petrokimia tanah air melalui usaha yang berkelanjutan dan inovatif. Melalui usaha inovasi keberlanjutan tersebut Polytama mengembangkan fasilitas berupa Biodigester yang menjadi pusat perhatian dan memberikan warna baru dalam Inovasi melestarikan lingkungan. Ini hasil sinergi antara Polytama dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu di area kawasan Taman TJimanoek. Biodigester ini merupakan sebuah inovasi dalam upaya pemanfaatan sampah organik menjadi substitusi bahan bakar gas methane yang dipergunakan bagi UMKM kuliner di kawasan Tjimanoek. Saat ini KLHK sedang mengkampanyekan mengenai pengelolaan sampah sisa makanan dimana sesuai pernyataan dari Ir. Sigit Reliantoro selaku Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK RI. “Saat ini sampah sisa makanan Indonesia mencapai 23 – 48 juta ton sisa makanan yang terbuang” ucapnya kepada media, Sabtu 28 Oktober 2023. Seperti diketahui, Ekoriparian Tjimanoek merupakan binaan CSR Polytama hasil kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Indramayu. Saat ini berhasil menata dan menghidupkan kembali area kuliner Tjimanoek dengan melengkapi kehadiran fasilitas biodigester berbasis Material Lanjutan Organik (MLO) yang mengubah sisa makanan menjadi energi gas terbarukan. Peresmian biodigester dilaksanakan di Taman Tjimanoek Indramayu, dengan dihadiri Bupati Indramayu Hj. Nina Agustina. Tampaj Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK RI), Ir. Sigit Reliantoro, Rektor Institut Teknologi Petroleum Balongan (ITPB), Dr. Hanifah Handayani, Perwakilan PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan, dan sejumlah mahasiswa ITPB, serta jajaran dinas Pemkab Indramayu, Forkopimda. Bupati Indramayu Nina Agustina, menyampaikan, apresiasinya kepada Polytama yang telah memberikan inovasi dalam pengolahan sampah untuk kelestarian lingkungan. “Saya harap fasilitas- fasilitas ini dapat digunakan dengan baik oleh pengunjung dan UMKM sekitar Cimanuk dan dapat menjadi percontohan bagi pelaku usaha lainnya agar dapat mengatasi sampah di Indramayu,” ujarnya. Pada acara tersebut juga dilakukan peresmian fasilitas umum berupa toilet bagi para pengunjung dan Pos Jaga yang dilanjutkan dengan prosesi penanaman pohon Tabebuya.Sigit Reliantoro dari KLHK RI mengutarakan apresiasinya kepada Polytama akan konsistensinya dalam menggerakan lapisan masyarakat untuk mencintai lingkungan melalui program CSR nya.”Mulai dari Taman Keanekaragaman Hayati hingga Ekoriparian Tjimanoek. Ini awalnya hanya merupakan ide ide atau gagasan. Namun Polytama mengambil langkah untuk mengimplementasikan ide ide tersebut hingga sekarang dapat terwujud bahkan dijadikan percontohan bagi daerah daerah lain di Tanah Air.” ujarnya.*** source : Cirebon Pikiran Rakyat